Pastor Visser: Jejak Musik dan Iman di Tanah Misi
Lahir di Hertogenbosch pada 28 September 1855, Pastor Visser tumbuh dalam keluarga yang religius. Ia mengikuti pelajaran kehormatan selama beberapa tahun, lalu melanjutkan studi humaniora di Seminari Episkopal St. Michiels-Gestel. Pada 27 September 1875, ia bergabung dengan Serikat Yesus sebagai murid Rhetorica.
Sejak muda, ia dikenal sebagai anak yang lincah, sehat, dan berbakat musik. Para siswa seminari sering membicarakannya—bukan karena kelucuan geraknya semata, tetapi karena kecerdikannya yang unik dan bakat musiknya yang luar biasa. Setiap kali kembali dari liburan, ia membawa repertoar baru: lagu-lagu dari berbagai genre yang ia nyanyikan dan mainkan dengan penuh semangat. Ia mampu menyerap dan menghidupkan kembali apa pun yang didengarnya.
Pastor Visser menjalani masa novisiat di Mariëndaal, kemudian melanjutkan studi filsafat di Oudenbosch pada tahun 1879. Ia mengajar selama empat tahun di Collegie Sittard, lalu belajar teologi dan mata pelajaran terkait di Maastricht. Di sana pula ia ditahbiskan menjadi imam pada 8 September 1889.
Setelah kembali ke Sittard dan melayani hingga tahun 1895, ia berangkat ke Jawa sebagai misionaris. Musik menjadi pintu masuknya ke hati banyak orang—baik Katolik maupun non-Katolik, tua maupun muda. Di mana pun ia diperkenalkan, ia segera dihargai dan dicintai. Selama tujuh tahun, ia tinggal di Surabaya, melayani umat, mengunjungi rumah sakit, dan bahkan melakukan perjalanan ke Kalimantan demi pelayanan pastoral.
Namun, sebuah penyakit menyerang tubuhnya yang sebelumnya begitu sehat. Ia tinggal di Bandung selama lima bulan, dan dalam dua bulan terakhir, ia menyadari bahwa tak ada ramuan yang mampu menyembuhkan kondisinya. Dengan ketenangan yang mengagumkan, ia mempersiapkan diri untuk “perjalanan besar” itu. Ia tetap jernih dalam pikiran, penuh kesalehan, dan tak melupakan satu pun hal penting—hingga satu jam sebelum kematiannya.
Pastor Visser wafat pada 22 September 1915. Bakat musik yang dianugerahkan Tuhan kepadanya telah ia persembahkan sepenuhnya untuk pelayanan iman. Selama dua dekade di Hindia Belanda, ia meninggalkan jejak yang luar biasa—terutama bagi anak-anak yatim piatu di Surabaya dan Buitenzorg, tempat ia menjadi pilar dua Suaka selama bertahun-tahun. Kepergiannya akan dikenang dengan melankolis dan penuh kasih. Ia dimakamkan di Bandung.