Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Pater Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J anggota Komunitas Kolese Santo Petrus Kanisius, Jakarta. Pater Mudji adalah seorang Jesuit yang banyak berkiprah dalam karya pendidikan tinggi, terutama sebagai pengajar filsafat kebudayaan di STF Driyarkara, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, dan Institut Seni Indonesia, Surakarta. Lahir di Surakarta, 12 Agustus 1954, Pater Mudji adalah putera dari pasangan suami-istri Bapak Marcellianus Mudji Tjitroaditenaja dan Ibu Antonia Kasijem Tjitroaditenaja. Ia dibaptis pada 17 Agustus 1954 di Gereja Santo Antonius Padua, Purbayan. Pendidikan dasar ia tempuh di Surakarta (1960-1966) dan kemudian setamat SD, Pater Mudji melanjutkan pendidikan di SMP dan SMA Seminari Santo Petrus Canisius, Mertoyudan (1967-1972).

Selesai formasi filsafat, Pater Mudji menjalani formasi Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) sebagai sub-moderator sementara di SMA Seminari Mertoyudan dan kemudian ke Universitas Gregoriana untuk studi khusus bidang filsafat (1976-1979). Setelah selesai menjalani studi khusus dan Pater Mudji diutus menjalani formasi teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta (1979-1982).

Pada periode 15 Mei 1987-15 Februari 1988, Pater Mudji menjalani formasi tersiat di Kolese Stanislaus, Girisonta di bawah bimbingan Pater Ferdinandus Heselaars, S.J. Dua tahun setelah tersiat, tepatnya pada 31 Juli 1989, di hadapan Provinsial Pater J. Darminta, S.J., Pater Mudji mengucapkan kaul akhir sebagai professed di Gereja Santo Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta.

RIWAYAT TUGAS PATER FRANCISCUS XAVERIUS ARKO SUDIONO, S.J
SELAMA DI INDONESIA

KARYA LOKASI TAHUN
Vikaris Parokial Paroki Wonogiri Wonogiri 1982-1984
Studi Khusus Program Doktorat Filsafat – Universitas Gregoriana Roma 1984-1987
Pengajar Filsafat STF Driyarkara Jakarta 1987-wafat

Pater Mudji meninggal dunia pada Minggu, 28 Desember 2025 malam karena sakit. Misa Requiem diadakan di Kapel Kolese Kanisius, dan kemudian diberangkatkan ke Girisonta pada 30 Desember 2025. Kemudian keesokan harinya dilakukan pemakaman di Taman Makam Ratu Damai.