PATER BERNARDUS JACOBUS JOSEPHUS MUTSAERS, S.J. lahir di Tilburg pada 7 Mei 1836. Seperti banyak putra dari keluarga terhormat dengan nama tersebut, ia menempuh pendidikan di Seminari Keuskupan untuk mempersiapkan diri menjadi imam. Namun, ia merasa dibatasi oleh negara yang membatasi hidup beragama.
Pada 13 November 1859, tepat di hari pesta St. Stanislaus Kostka, filsuf muda berusia 23 tahun ini memilih bergabung dengan para novis Serikat Yesus di Ravenstein. Sepuluh tahun kemudian, setelah menyelesaikan masa pembinaan, ia ditahbiskan sebagai imam pada 19 September 1869 oleh Monseigneur Leo Meurin, S.J., seorang Uskup Misionaris terkenal.
Pater Mutsaers digambarkan sebagai pria kecil kurus dengan mata yang penuh semangat dan wajah yang selalu bersemangat. Rambut hitamnya tetap tebal dan tidak berubah, memberinya kesan awet muda. Walaupun telah menginjak usia enam puluh tahun, ia tampak seperti pria berusia empat puluh. Ia dikenal sebagai sosok yang kuat, memiliki pikiran yang jernih, serta tekad yang luar biasa.
Setelah menghabiskan beberapa tahun berkarya di tanah airnya, Pater Mutsaers akhirnya meninggalkan kediamannya di Oosterhout dan memulai misi besar di Hindia Belanda pada tahun 1878. Dengan langkah tegap dan suara yang tenang, ia menunjukkan semangat kerasulan yang besar.
Perjalanan menuju Hindia Belanda ternyata penuh tantangan. Awalnya, ia berencana berangkat dengan kapal de Friesland, tetapi tiba-tiba urung berangkat—suatu keberuntungan baginya, karena kapal tersebut kemudian tenggelam di Teluk Biscaye bersama seluruh penumpangnya. Tak lama setelah itu, ia naik kapal uap Wyberton, yang juga mengalami kecelakaan serius ketika dek atasnya runtuh. Beruntung, tidak ada korban jiwa. Setelah dua kali lolos dari bahaya besar, akhirnya ia tiba di Batavia pada 4 Februari 1878.
Di Maumere dan Larantoeka, Flores, ia mengabdikan diri dengan tekun, bekerja dan belajar bahasa setempat hingga tahun 1883. Namun, kesehatannya memburuk, sehingga ia harus kembali ke Belanda untuk beristirahat. Sekembalinya pada tahun 1884, ia membawa serta kerangka besi untuk gereja Larantoeka dan kembali berkarya hingga diangkat menjadi superior di Manado, Sulawesi, pada tahun 1886.
Tugas di Manado bukanlah hal yang mudah. Minahasa adalah wilayah yang diperebutkan oleh misi Katolik dan Protestan. Selama bertahun-tahun, para misionaris Katolik menghadapi berbagai tantangan, baik dari pemerintah maupun dari kelompok Protestan yang sudah lebih dulu mengakar. Namun, berkat pendekatan diplomatis dan kerja kerasnya, Pater Mutsaers berhasil mempertahankan komunitas Katolik di wilayah tersebut. Selama sepuluh tahun penuh, ia melakukan perjalanan dari desa ke desa, mengajarkan agama, membimbing umat, serta menghadapi berbagai tantangan dengan keteguhan hati.
Pada tahun-tahun berikutnya, ia terus berkarya di berbagai tempat, termasuk Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Ia memainkan peran penting dalam pembelian tanah gereja di Bandung, yang nilainya kemudian meningkat berkali-kali lipat. Ia juga memimpin komunitas religius di Djokja dan Semarang sebelum akhirnya mengundurkan diri pada tahun 1912 sesuai dengan keinginan para pemimpinnya.
Pada tahun 1909, ia merayakan ulang tahun emasnya sebagai seorang Jesuit. Namun, usia dan kesehatan yang semakin menurun membuatnya mengalami gangguan pendengaran serta masalah pada kakinya akibat jatuh. Hingga akhirnya, pada 20 September 1918, di Moentilan, ia wafat setelah menerima Sakramen Kudus. Ia dimakamkan di Kerkof Muntilan, meninggalkan jejak pengabdian yang luar biasa.
Meskipun Pater Mutsaers bukan sosok yang tampil sebagai pemimpin yang gemilang di mata publik, ia adalah seorang pelayan yang setia dan bijaksana. Dengan penuh pengorbanan, ia menjalankan tugasnya untuk membangun Kerajaan Allah dengan semangat seorang Jesuit sejati. Ia termasuk golongan para misionaris yang baik—seorang yang tidak takut menghadapi tantangan demi iman yang ia anut.
Riwayat Penugasan :
| Paroki Larantuka (Tengah, Wureg, Solor, Lomblen) | Flores | 1878-1880 |
| Paroki Maumere (Kotting, Lela, Nita) | Flores | 1880-1881 |
| Direktur Seksi Pengabdian Masyarakat (SPM) Realino | Yogyakarta | 2006-2008 |
| Paroki Larantuka (Tengah, Wureg, Solor, Lomblen) | Flores | 1881-1883 |
| Cuti | Belanda | 1883-1884 |
| Paroki Larantuka (Tengah, Wureg, Solor, Lomblen) | Flores | 1884-1886 |
| Paroki Manado (Tomohon, Woloan, Kendari) | Sulawesi | 1886-1896 |
| Paroki Medan (Deli) | Sumatera Utara | 1896-1898 |
| Paroki Cirebon | Cirebon | 1898-1903 |
| Paroki Kidul Loji | Yogyakarta | 1903-1905 |
| Paroki Gedangan | Semarang | 1905-1910 |
| Paroki St. Ignatius | Magelang | 1910-1913 |