Pater Wintjes lahir pada 8 November 1858 dari keluarga katolik Belanda Selatan yang saleh. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya dia masuk Serikat Jesus di Mariendaal pada tanggal 26 September 1978. Tahbisan imam diterimanya di Maastricht pada tanggal 8 September 1890. Setelah menyelesaikan tersianya di Donge Belgia dia diutus ke misi Hindia Belanda
Riwayat Penugasan
| Pastor Paroki Larantuka (Tengah, Wureh, Solor dan Lomblen) | Flores | 1891-1893 |
| Pastor Paroki Sikka | Flores | 1893-1894 |
| Pastor Paroki Larantuka (Tengah, Wureh, Solor, dan Lomblen) | Flores | 1894-1895 |
| Pastor Paroki Manado (Tomohon, Woloan, Kendari) | Sulawesi | 1895-1913 |
| Pastor Paroki Ujungpandang | Sulawesi | 1913-1915 |
Sejak tahun 1892 hingga 1895 P. Wintjes bekerja di Flores timur didaerah Larantuka, Tengah, Wureh, Solor, Lomblen dan Sikka. Tahun 1895 P. Wintjes ditugaskan di Sulawesi Utara menemani P. van Velsen. Pada tahun 1897, misi di Sulawesi Utara menjadi hidup kembali dengan lebih giat. Sekolah-sekolah katolik sejumlah 15 buah dengan 700 murid yang masih cukup primitif, diperbaiki. Mutu guru-guru yang juga merangkap sebagai katekis harus dinaikan. Kemudian pada tahun 1896 P. Wintjes mengirim empat anak berumur 12 – 15 tahun untuk belajar ilmu keguruan di Semerang. Mereka tinggal disebuah keluarga manado di Semarang.
Perkembangan misi di Sulawesi Utara cukup pesat sehingga dibutuhkan twnaga-tenaga baru. Tidak hanya untuk Makasar. Memang stasi Makasar bukanlah misi yang besar P. Wintjes dan P. Onel dalam perjalanan tugas mereka menemukan sejumlah orang katolik. Mereka adalah orang-orang Filipina, Flores dan Kai yang bekerja pada sebuah perusahaan kayu. Bisa dibayangkan bahwa pada pertemuan dengan P. Wintjes orang-orang katolik ini sudah 20 tahun tidak berjumpa dengan seorang imam pun. Tanpa Imam mereka sudah membangun sebuah kapel dimana pada setiap hari minggu mereka berkumpul untuk berdoa bersama-sama. Mereka juga meminta supaya disediakan seorang katekis yang akan mereka gaji. Dengan demikian P. Wintjes berharap bahwa orang-orang yang masih menyembah pada roh-roh nenek moyang yang jumlahnya cukup siknifikan akan juga memeluk Kristianitas.
P. Wintjes setelah sepuuluh tahun bekerja di Manado sekarang pindah ke Makasar. Tenaganya sudah terkuras di Flores dan di Sulawesi Utasa. Selama tujuh tahun bekerja di Minahmsa bersama rasul yang mulia dari daerah itu di Sulawesi Utara. Secara pribadi, oleh karena itu, ia telah menyaksikan inspirasi suci, pengabdian yang tak kenal lelah dan kebajikan heroik dari misionaris besar ini, yang bekerja selama bukan tujuh tetapi delapan belas tahun yang panjang sebagai rasul Tomohon yang berbakat, pusat misi kami di Minahassa yang dicobai dan diberkati.
Ia sangat percaya bahwa agama Katolik diajarkan oleh Kristus. Dia tidak malu untuk memberitakan doktrin itu dan dengan tegas mendesak semua muridnya untuk mengikuti doktrin Kristus dengan jantan dalam kerendahan hati. Dengan melakukan itu, Pendeta Wintjes dapat memaafkan penghinaan yang dilakukan kepadanya dan melupakan kengerian yang diderita. Dengan kesabaran dan kasih ia menanggung yang lemah dan bodoh, dan menunjukkan belas kasihan bagi mereka yang takut untuk mengikuti Injil sesuai dengan kebenaran, meskipun tindakan ini membuatnya kecil dan tercela menurut pendapat banyak orang. Dia tidak malu dengan agama. Ketika domba-dombanya dianiaya atau hak-hak mereka dilanggar, dia bertindak tanpa rasa takut untuk hak-haknya sendiri dan melindungi mereka yang telah ditempatkan di bawah perawatannya oleh otoritas yang sah. Sebenarnya. Pendeta Wintjes telah melindungi dan memelihara kita seperti seorang gembala yang setia menjaga kawanan dombanya. Ikuti keberanian mereka tanpa rasa takut dan tidak malu akan Injil.
Pada awal tahun 1915, ia dipindahkan ke Surabaya sekaligus untuk pemulihan kesehatannya. Namun, Tuhan memanggilanya pada 11 Oktober 1915 dan kemudian ia dimakamkan di Surabaya.